Sabtu, 19 Juni 2010

Referensi: Pencak Silat Cetak E-mail Ditulis oleh Mohammad Iqbal Rasyid

BATURAJA, Pencak Silat, atau kadang disebut Pencak saja, atau Silat saja adalah seni bela diri Asia yang berakar dari budaya Melayu, yang secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina Selatan dan Thailand Selatan.
Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Sedangkan wadah organisasi pencak silat se-dunia adalah Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa). Persilat dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam sebagai wadah pencak silat di dunia.

Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas, (yaitu penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka), berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri.
Ada yang berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Ini ada benarnya, bahkan bisa jadisesungguhnya tidak hanya itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu.

Dalam historisasi pencak silat (khususnya yang dirumuskan dan disosialisasikan oleh TAPAK SUCI) dapat disimpulkan bahwa terdapat dua kategori akar aliran pencak silat, yaitu:

1. Aliran bangsawan
2. Aliran rakyat

Aliran bangsawan, adalah aliran pencak silat yang dikembangkan oleh kaum bangsawan (kerajaan). Ada kalanya pencak silat ini merupakan alat pertahanan dari suatu negara (kerajaan). Sifat dari pencak silat yang dikembangkan oleh kaum bangsawan umumnya tertutup dan mempertahankan kemurniannya.
Aliran rakyat, adalah aliran pencak silat yang dikembangkan oleh kaum selain bangsawan. Aliran ini dibawa oleh para pedagang, ulama, dan kelas masyarakat lainnya. Sifat dari aliran ini umumnya terbuka dan beradaptasi.
Bagi setiap suku di Melayu, pencak silat adalah bagian dari sistem pertahanan yang dimiliki oleh setiap suku/kaum. Pada jaman Melayu purba, pencak silat dijadikan sebagai alat pertahanan bagi kaum/suku tertentu untuk menghadapi bahaya dari serangan binatang buas maupun dari serangan suku lainnya. Lalu seiring dengan perjalanan masa pencak silat menjadi bagian dari adat istiadat yang
wajib dipelajari oleh setiap anak laki-laki dari suatu suku/kaum. Hal ini mendorong setiap suku dan kaum untuk memiliki dan mengembangkan silat daerah masing-masing.
Sehingga setiap daerah di Melayu umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat.[3] Hal seperti itu juga yang terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada. Adapun sesungguhnya kedua tokoh ini benar-benar ada dan bukan legenda semata, dan keduanya hidup pada masa yang sama.

Perkembangan dan penyebaran Silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di Nusantara. Catatan historis ini dinilai otentik dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini.
Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.* (MIR)
Tulisan ini dapat dijadikan sebagai referensi tambahan bagi pembaca yang membutuhkan literatur tentang Pencak Silat. Tulisan ini sebelumnya pernah disumbangkan penulis untuk melengkapi refrensi tentang Pencak Silat di website http://id.wikipedia.org/wiki/Pencak_silat.

BEBERAPA TIPS KESELAMATAN DIRI

BATURAJA, Berikut ini adalah beberapa tips sederhana dalam keselamatan diri anda. Ingat, pelanggaran --baik itu pelanggaran kejahatan ataupun pelanggaran-pelanggaran lainnya-- dapat terjadi karena ada nya kesempatan.

Kewaspadaan - Awareness:

Perhatikan situasi dan kondisi sekitar anda, buka mata dan buka telinga. Jika anda berada di tempat yang asing buat anda, ketahui segera dimana letak pos keamanan terdekat, ketahui dimana pintu keluar dan pintu masuk, dan rencanakan langkah-langkah penyelamatan diri jika terjadi sesuatu. Utamakanlah keselamatan anda. Ikuti naluri atau firasat anda. Jangan gunakan asumsi anda dalam menilai orang-orang di lingkungan yang asing. Jika perlu pancinglah agar mereka melakukan sesuatu yang bisa anda pastikan, daripada anda berasumsi.

Pencegahan lebih baik :

Cegah atau hindari segala sesuatu yang memungkinkan mengakibatkan bahaya pada diri anda. Jika anda menemui kejanggalan pada sesuatu, jangan tunda untuk segera melapor kepada petugas keamanan dan mintalah dia untuk menindak lanjutinya. Hindari pula berada di tempat-tempat yang rawan dan berbahaya apabila memang tidak perlu.

Gaya hidup :

Ubah kebiasaan atau gaya hidup anda agar tidak menjadi risky lifestyle. Penampilan anda, apa yang anda kenakan, apa yang anda bawa, sebaiknya dibuat sesederhana mungkin dan tidak menarik perhatian pelaku kejahatan.

SEJARAH 10 PERGURUAN HISTORIS IPSI


BATURAJA, Pasca penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Republik Indonesia (dulu masih bernama RIS-Republik Indonesia Serikat) tanggal 27 Desember 1949, pusat Pemerintahan Republik Indonesia berpindah tempat dari Yogykarta kembali ke Jakarta. Sebelumnya, selama empat tahun Yogyakarta pernah menjadi ibukota Republik Indonesia, yaitu resminya sejak 4 Januari 1946 sampai 27 Desember 1949. Perpindahan pusat pemerintahan tersebut diikuti dengan perpindahan kantor kementerian, dan kantor-kantor atau instansi milik pemerintah.

Demikan pula pada tahun 1950 Pengurus Besar IPSI secara de facto juga berpindah tempat dari Yogyakarta ke Jakarta, sekalipun tidak semua anggota pengurus-pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia dapat ikut pindah ke Jakarta. Waktu itu IPSI baru 2 tahun berdiri, yaitu sejak didirikan pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta, oleh Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia, yang menetapkan Mr. Wongsonegoro sebagai Ketua PB.IPSI. Saat IPSI berdiri, Republik Indonesia sedang dalam masa perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dan memantapkan kedaulatan Republik Indonesia, yang harus ditempuh melalui perjuangan baik secara fisik maupun diplomasi. Kondisi ini juga mengakibatkan IPSI yang masih berusia muda harus mengkonsentrasikan pengabdiannya kepada perjuangan kemerdekaan, sehingga kondisi manajerial dan operasional IPSI kala itu mau tidak mau mengalami penyusutan.

Di sisi lain, Pemerintah Pusat RI kala juga sedang menghadapi pemberontakan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia ( DI/TII ) di beberapa daerah, termasuk di Jawa dan Lampung. Untuk menambah kekuatan dalam melawan DI/TII tersebut, Panglima Teritorium III waktu itu, Kolonel (terakhir Letnan Jenderal) R.A. Kosasih, dibantu Kolonel Hidayat dan Kolonel Harun membentuk PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia), yang kala itu didirikan untuk menggalang kekuatan jajaran Pencak Silat dalam menghadapi DI/TII yang berkembang di wilayah Lampung, Jawa Barat (termasuk Jakarta), Jawa Tengah bagian Barat termasuk D.I. Yogyakarta.

Setidaknya dalam kondisi tersebut timbulah dualisme dalam pembinaan dan pengendalian Pencak Silat di Indonesia, yaitu Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dengan konsentrasi lebih banyak dalam hal pembinaan pada aspek Olah Raga, sedangkan Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) lebih banyak membina pada aspek seni pertunjukan (ibing Pencak Silat) dan Pencak Silat bela diri untuk melawan DI/TII. Selain dua organisasi, IPSI dan PPSI ini, juga terdapat beberapa organisasi lain seperti Bapensi, yang masing-masing berupaya merebut pengaruh sebagai induk pembinaan pencak silat di Indonesia.

Sementara itu IPSI harus berjuang keras agar pencak silat dapat masuk sebagai acara pertandingan di Pekan Olahraga Nasional. Hal serupa juga dilakukan oleh PPSI yang setiap menjelang PON juga berusaha untuk memasukkan pencak silatnya agar dapat ikut PON. Namun Pemerintah, yang pada tahun 1948 juga ikut berperan mendirikan IPSI, hanya mengenal IPSI sebagai induk organisasi pencak silat di Indonesia.

Kala itu induk organisasi olahraga yang ada adalah KOI (Komite Olimpiade Indonesia) diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) dengan Ketua Widodo Sosrodiningrat.Di tahun 1951, PORI melebur kedalam KOI. Tahun 1961 Pemerintah membentuk Komite Gerakan Olahraga (KOGOR) untuk mempersiapkan pembentukan tim nasional Indonesia menghadapi Asian Games IV di Jakarta. Kemudian di tahun 1962 Pemerintah untuk pertama kalinya membentuk Departemen Olahraga (Depora) dan mengangkat Maladi sebagai menteri olahraga. Selanjutnya di tahun 1964 Pemerintah membentuk Dewan Olahraga Republik Indonesia (DORI), yang mana semua organisasi KOGOR, KOI, top organisasi olahraga dilebur ke dalam DORI.

Pada tanggal 25 Desember 1965, IPSI ikut membentuk Sekretariat Bersama Top-top Organisasi Cabang Olahraga, yang kemudian mengusulkan mengganti DORI menjadi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang mandiri dan bebas dari pengaruh politik, yang kemudian kelak pada 31 Desember 1966 KONI dibentuk dengan Ketua Umum Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Maka kala itu IPSI juga ikut memegang peranan penting dalam sejarah pembentukan KONI sehingga kelak menjadi induk organisasi olahraga di Indonesia.

Menjelang Kongres IV IPSI tahun 1973 beberapa tokoh Pencak Silat yang ada di Jakarta membantu PB IPSI untuk mencari calon Ketua Umum yang baru, karena kondisi Mr. Wongsonegoro yang pada saat itu sudah tua sekali. Salah satu nama yang berhasil diusulkan adalah Brigjen.TNI Tjokropranolo (terakhir Letjen TNI) yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sekalipun kelak kemudian pada Kongres IV ini beliau terpilih sebagai Ketua Umum PB IPSI, namun jalan bagi Brigjen.TNI. Tjokropranolo tidaklah semudah yang dibayangkan. Masih banyak tugas dan tanggung jawab PB IPSI yang kelak harus dihadapi dengan serius. Disamping itu PB IPSI pun perlu merumuskan jati dirinya secara lebih aktif, disamping merumuskan bagaimana mempertahankan eksistensi dan historis IPSI dalam langkah pembangunan nasional.
Karena itu kemudian Brigjen.TNI. Tjokropranolo dibantu oleh beberapa Perguruan Pencak Silat yaitu:
  • dari Tapak Suci Bapak Haryadi Mawardi, dibantu Bpk. Tanamas;
  • dari KPS Nusantara Bp. Moch Hadimulyo dibantu Bp. Sumarnohadi, Dr. Rachmadi, Dr. Djoko Waspodo;
  • dari Kelatnas Perisai Diri Bp. Arnowo Adji HK;
  • dari Phasadja Mataram Bp. KRT Sutardjonegoro;
  • dari Perpi Harimurti Bp. Sukowinadi;
  • dari Perisai Putih Bp.Maramis, Bp. Runtu, Bp. Sutedjo dan Bp. Himantoro;
  • dari Putera Betawi Bp.H. Saali;
  • dari Persaudaraan Setia Hati Bp. Mariyun Sudirohadiprodjo, Bp. Mashadi, Bp. Harsoyo dan Bp.H.M. Zain;
  • dari Persaudaraan Setia Hati Terate Bp. Januarno, Bp. Imam Suyitno dan Bp. Laksma Pamudji.

Salah satu tantangan yang cukup berarti saat itu adalah belum berintegrasinya PPSI ke dalam IPSI. Kemudian atas jasa Bapak Tjokropranolo berhasil diadakan pendekatan kepada 3 (tiga) pimpinan PPSI yang kebetulan satu corps yaitu Corps Polisi Militer. Sejak itu PPSI setuju berintegrasi dengan IPSI, kemudian Sekretariat PB IPSI di Stadion Utama dijadikan juga sebagai Sekretariat PPSI. Pada Kongres IV IPSI itulah kelak kemudian, H. Suhari Sapari, Ketua Harian PPSI datang ke Kongres dan menyatakan bahwa PPSI bergabung ke IPSI.

Kongres IV IPSI tahun 1973 menetapkan Bp. Tjokropranolo sebagai Ketua PB. IPSI menggantikan Mr. Wongsonegoro. Mr. Wongsonegoro telah berjasa mengantarkan IPSI dari era perjuangan kemerdekaan menuju era yang baru, era mengisi kemerdekaan. Saat inilah seolah IPSI berdiri kembali dan lebih berkonsentrasi pada pengabdiannya, setelah sebelumnya melalui masa-masa perang fisik dan diplomasi yang dialami seluruh bangsa Indonesia. Di bawah kepemimpinan Bapak Tjokropranolo ini IPSI semakin mantap berdiri dengan tantangan-tantangan yang baru sesuai perkembangan zaman. Pada Kongres IV IPSI itu pun sepuluh perguruan yang menjadi pemersatu dan pendukung tetap berdirinya IPSI diterima langsung sebagai anggota IPSI Pusat, dan kemudian memantapkan manajemen, memperkuat rentang kendali PB IPSI sampai ke daerah-daerah, dan mempersatukan masyarakat pencak silat dalam satu induk organisasi. Untuk selajutnya Bapak Tjokropranolo menegaskan bahwa 10 (sepuluh) Perguruan Silat tersebutlah yang telah berhasil bukan sekedar menyusun bahkan juga melaksanakan program-program IPSI secara konsisten dan berkesinambungan.

Maka selanjutnya yang dimaksud dengan sepuluh perguruan tersebut adalah:
  1. Tapak Suci,
  2. KPS Nusantara,
  3. Kelatnas Perisai Diri,
  4. Phasadja Mataram,
  5. Perpi Harimurti,
  6. Perisai Putih,
  7. Putera Betawi,
  8. Persaudaraan Setia Hati,
  9. Persaudaraan Setia Hati Terate,
  10. Persatuan Pencak Seluruh Indonesia (PPSI).

Pada waktu kepemimpinan Bapak. H. Eddie M. Nalapraya nama kelompok 10 (sepuluh) Perguruan Silat anggota IPSI Pusat tersebut diubah menjadi 10 (sepuluh) Perguruan Historis, setelah sebelum Perguruan Induk kemudian menjadi Perguruan Anggota Khusus karena keanggotannya di IPSI Pusat menjadi anggota khusus. nya sempat istilahnya disebut sebagai Top Organisasi, atau Di dalam setiap Munas IPSI maka Perguruan Historis ini selalu menjadi peserta dan memiliki hak suara di dalam Munas.


***


Sumber:
1. Tulisan H. Harsoyo (Perguruan Persaudaraan Setia Hati)
2. H. Haryadi Mawardi (Perguruan TAPAK SUCI)
3. Sejarah KONI
3. Arsip
4. Sumber-sumber lainnya

Minggu, 23 Mei 2010

PENGURUS BESAR (PB) PERGURUAN PENCAK SILAT NASIONAL (PERSINAS) ASAD MENGADAKAN KONSOLIDASI ORGANISASI SE-PROVINSI SUMSEL DI PALEMBANG



PALEMBANG, Baru-baru ini tepatnya hari Minggu, tanggal 23 Mei 2010. Pengurus Besar (PB) Perguruan Pencak Silat Nasional (PERSINAS) ASAD melakukan konsolidasi organisasi Se-Provinsi Sumatera Selatan di Palembang. Acara dimulai pukul 13.30 sampai dengan 17.30 Wib, yang di isi kata sambutan dari Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov. Persinas Asad Sumsel Periode 2010 - 2015) Bapak Yose Desman, SH dan dilanjutkan dengan penyampaian materi perubahan AD/ART hasil Musyawarah Nasional (MUNAS) III Persinas Asad di Surakarta oleh Dewan Pembina (Wanbin) PB. Persinas Asad oleh Bapak Letkol. Art. TNI (Purn) H. Hasan Bisri. Kemudian acara dilanjutkan dengan penyampaian materi MM1000 dan Peraturan Organisasi (PO) oleh Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) PB. Persinas Asad oleh Bapak Mujiyanto K, S.Kom. Acara berlangsung dengan baik dan lancar, hadir dalam acara tersebut seluruh Dewan Pembina (Wanbin), Pengurus Cabang (Pengcab) Persinas Asad Kabupaten/Kota dari unsur Ketua dan Sekretaris se-provinsi Sumatera Selatan. Dari Pengcab. Persinas Asad Kabupaten OKU sempat hadir Bapak Dwi Joko Handoyo, SH dan Sdr. Eka Erwandi, SKM (selaku Ketua dan Sekretaris). Di akhir acara para peserta sama-sama menyaksikan atraksi Jurus Silat Persinas Asad oleh Wildan dan kawan-kawan hasil binaan dari Persinas Asad Provinsi Sumatera Selatan.

Sabtu, 08 Mei 2010

KHAIRUL AKBAR PESILAT DI MASA DEPAN


SOLO, Kejurnas Persinas Asad yang diselenggarakan di GOR Manahan Solo, Rabu 24 Pebruari 2010, diikutioleh sebanyak 370 peserta pesilat yang berasal dari seluruh Pengda se- Indonesia.
Seperti biasa pembukaan Kejurnas diawali dengan berbagai atraksi pesilat tuan rumah dan pesilat yang berasal dari Jawa Barat. Dalam atraksi tersebut yang sangat memukau penonton adalah tampilnya Pesilat Cilik Peraih Juara III World Martial Arts 2009 di Chung Yu Korea Selatan. Bintang Cilik yang telah mengharumkan nama Persinas Asad di kanca Internaional ini adalah anak yang baru berusia 5 (lima) tahun asal Jawa Barat memukau pengunjung dengan atraksi Silat dan Goloknya. Bintang Cilik ini mampu memainkan 100 Jurus hanya dalam waktu 3 (tiga) menit, dia adalah KHAIRUL AKBAR Pesilat Masa Depan .....!

Jumat, 07 Mei 2010

KEJURNAS PERSINAS ASAD DI GOR MANAHAN SOLO 24 - 28 PEBRUARI 2010







SOLO, Belum lama ini Kejurnas Persinas Asad diselenggarakan dan dibuka langsung oleh Sekretaris Umum atas nama Ketua Umum PB. IPSI Bapak Erizal Chaniago pada tanggal 24 sampai dengan 28 Pebruari 2010 di GOR Manahan Solo. Acara Kejurnas kali ini diikuti oleh 370 Atlit dari seluruh Indonesia memperebutkan 13 Medali Emas yang terbagi atas 10 Kelas Tanding dan Tiga Kelas Seni Jurus. Ketua Umum PB Persinas ASAD Bapak Brigjen TNI (Purn) Ir. H. Agus Susarso, M.Eng.Sc, MM mengharapkan para Pesilat yang berlaga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai solidaritas, sportifitas dan soliditas dan agar dievent ketiga ini bisa menjadi ajang silaturohim antar Pesilat, Pembina, Wasit dan warga masyarakat. Pada akhirnya Kejrunas Tahun 2010 kali ini dimenangkan oleh Kontingen Pengda Banten meraih Juara Umum dengan memperoleh 2 Medali Emas, 2 Perak dan 1 Perunggu sehingga berhak menerima hadiah bergilir Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Selanjutnya Juara Umum kedua diraih oleh Kontingen Pengda Jawa Tengah dan Kalimantan Timur, sedangkan Pengda Jawa Barat ditempat ke III. Bravooo Persinas Asad ........!

SELAMAT DAN SUKSES MUNAS III PERSINAS ASAD DI WISMA HAJI DONOHUDAN BOYOLALI JATENG, SABTU 27 PEBRUARI 2010






BOYOLALI JATENG, Baru-baru ini PB. Persinas ASAD menyelenggarakan Musyawarah Nasional (MUNAS) III yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 27 Pebruari 2010 di Wisma Haji Donohudan Boyolali Jawa Tengah. Acara diikuti oleh 33 Pengurus dari 33 Provinsi, masing-masing Ketua dan Sekretaris Pengurus Daerah (PENGDA). Munas kali mengambil Tema " Melalui Pencak Silat Kita Tingkatkan Partisipasi Perjuangan Pemuda Dalam Ikut Membangun Bangsa ". Dari hasil Munas diperoleh beberapa keputusan diantaranya :
1. Terpilih kembali Bapak Brigjen. TNI(Purn).Ir.H. Agus Susarso,M.Eng sebagai Ketua Umum dan Ir. H. Teddy Suratmadji, M.Sc sebagai Sekretaris Umum Periode 2010 - 2015.
2. Nomenklatur Perguruan Silat Nasional (PERSINAS) di ubah menjadi Perguruan Pencak Silat Nasional.
3. Nomenklatur Pengurus Daerah (PENGDA) untuk Kepengurusan di Tingkat Provinsi di ubah menjadi Pengurus Provinsi (PENGPROV) dan penambahan beberapa Departemen diantaranya Dep. Pembibitan dan Permasalahan, Dep. Promosi dan Pemasaran dan Dep. Pembinaan Seni Budaya Pencak Silat.
4. Dibentuknya Lembaga Bela Diri yang menangani ilmu Silat yang tidak dipertandingkan.
Acara berlangsung Sukses dan meriah didahului dengan penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum PB Persinas ASAD Periode 2005 - 2010 oleh Bpk. Brigjen TNI (Purn) Ir. H. Agus Susarso, M.Eng, Sc, MM.